Unfinished Business

https://i0.wp.com/kdri.web.id/sites/default/files/wajib%20belajar.jpg

gambar dari sini

Saat kuliah di Bogor, saya ingat punya kakak kelas asal Papua yang  belajar di jurusan yang sama. Katanya, kakak kelas itu anak salah satu ketua suku di daerahnya.  Konon katanya pula, dia satu satunya warga suku yang diijinkan mengenyam bangku pendidikan hingga kuliah. Mungkin karena anak ketua suku juga ya. Dan kabarnya, saat ini dia sudah jadi pejabat daerah di Papua.

Sebenarnya saat itu banyak teman dan kakak kelas yang berasal dari wilayah timur indonesia khususnya Papua. Tapi rata rata, mereka bukan orang asli Papua karena mereka mengikuti orang tua dinas di sana.  Tahun 1999 juga ada salah satu mahasiswa di Jurusan kami yang berasal dari Papua. Saat itu dia ditugaskan oleh Pemda setempat tempatnya bekerja untuk kuliah di jurusan Teknik dengan modal beasiswa. Usianya jauh diatas rekan rekan mahasiswa seangkatannya 🙂 tapi salut, dia belajar dengan giat dan saat ini beliau sedang menyelesaikan S3 di UGM. Waaah.. senangnyaaa 🙂

Sudah sekitar 5 tahun terakhir, jumlah mahasiswa dari daerah timur indonesia yang belajar di institusi tempat saya beraktivitas,mengalami peningkatan. Keberadaan mereka terlihat mencolok walaupun saat berbaur. Setiap angkatan, ada sekitar 4 mahasiswa dari wilayah timur Indonesia dan 2 diantaranya dari Papua. Saya menaruh harapan besar pada keberadaan mereka dengan tujuan dapat membangun daerahnya menjadi lebih baik lagi saat usai mereka kuliah.

Tapi harapan saya masih jauh panggang dari api. Mahasiswa dari daerah timur khususnya Papua, saat menginjak semester 4 tak akan terlihat lagi kehadirannya di kelas. Ini bukan omong kosong. Saya melihat pola yang sama selama 5 tahun ini. Mereka berguguran dengan sendirinya. Yang menyebabkan mereka mundur adalah hal yang mendasar sekali yaitu mereka tak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Kok bisa? baik, saya akan bercerita sedikit mengenai hal ini.

Suatu hari di awal tahun 2010, seorang mahasiswa Papua semester awal mendatangi saya. Dia mengeluh mengenai materi perkuliahan yang menurut dia sulit dan tak bisa dicerna. Saat itu kening saya berkerut karena mata kuliah di semester 1 dan 2 masih mengulang pelajaran di SMU. Ya,,ga jauh dari matematika,fisika dan sisanya mata kuliah umum lainnya. Jadi, apa yang tak bisa dicernanya? Setelah bercerita banyak, akhirnya dia mengaku bahwa dia tak bisa mengerti  pelajaran matematika dan fisika dan dia minta saya untuk mengajarinya. Lalu, bagaimana dia bisa lulus UN? Jawaban dia klasik. Seperti yang sudah kita tahu yaitu “diperbolehkan tidak jujur”.

Jadi, masuk akal jika dia tak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik karena ternyata kualitas manusianya yang buruk diakibatkan sistem pendidikan dasar hingga menengah yang semrawut dan tak berpihak. Bukan hanya matematika dan fisika saja yang tak dimengerti. Bahkan Bahasa Indonesia pun mereka tak fasih dalam menulis 😦

Tak sedikit kawan mereka yang berhasil menyelesaikan kuliahnya di jurusan teknik . Tapi sekali lagi, beban menggelayut di pundak rekan dosen.  Standar penilaian kami buat tak terlalu muluk dengan mahasiswa lain. Bukan tanpa alasan, tak jarang mereka tak paham apa yang diinginkan dosen pembimbing. Tapi kami juga tak ingin membuat penilaian sekedarnya karena kami pun harus paham kualitas manusianya. Dan ini menjadi permasalahan tersendiri bagi kami.

Padahal, putra daerah yang kuliah jauh di Tanah Jawa kelak akan memegang jabatan strategis di daerahnya. Salah satu alumni yang berasal dari Ternate bahkan kini sudah ditarik menjadi tenaga tetap sebuah konsultan lingkungan yang menangani proyek Infrastruktur di Indonesia Timur. Tengok saja persyaratan PNS, sejak 2 tahun lalu selalu ada persyaratan tambahan untuk penempatan di Papua “putra daerah yang kedua orangtuanya asli Papua atau salah satu orang tuanya asli Papua“. Bukan sekedar orang yang ber-KTP Papua 🙂

Ini sebuah kebijakan yang bagus sekaligus lucu. Terbayangkah kondisi Papua setidaknya 10 tahun kedepan jika kualitas manusianya masih seperti ini? Mengharapkan pejabat daerah yang mengerti, peduli dan solutif akan permasalahan daerahnya itu mimpi yang terlalu muluk. Bukan pesimis, tapi justru ini bentuk kekecewaan saya akan sistem pendidikan yang amburadul. Terbayangkah, mahasiswa semester 2 tak mengerti operasi aritmatika dasar? sementara rekan mereka di belahan bumi lain sudah sibuk dengan les kumon. Bagaimana kabarnya momen, vektor, dll? 

Tulisan ini tak bermaksud meng-underestimate-kan semua putra daerah papua. Masih ada alumni angkatan 2000 yang baru saja menyelesaikan studi master nya di USA dengan Beasiswa Fullbright dan sekarang bekerja di Freeport, alumni angkatan 1999 yg sekarang sedang menempuh S3 di UGM, Alumni angkatan 2001 yang menjadi tenaga ahli air bersih di Biak. Tapi itu mereka yang memiliki kesempatan dan akses terhadap pendidikan dasar dan menengah lebih baik. Mereka berdomisili di Ibukota kabupaten Timika,Sorong dan Biak. Sementara sisanya?

Pemerintah juga telah menyediakan akses beasiswa pasca sarjana dengan porsi yang lebih besar untuk mahasiswa yang berasal dari daerah timur. Ini karena tujuan nya agar wilayh timur bisa mengejar ketertinggalannya dari sisi sumber daya manusia. Tapi pemerintah masih sedikit abai tentang pendidikan dasar dan menengah. Saya nggak tahu, apakah wajib belajar 9 tahun masih berlaku atau tidak?

Ini salah satu Unfinished business pemerintah yang harus segera diselesaikan. Semoga saja pemerintah lebih aware lagi hingga tak ada lagi kasus mahasiswa yang gugur di tengan jalan karena tak paham matematika dasar 😦

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Unfinished Business

  1. Kasihan mereka yang harus berusaha menyamakan / adaptasi kemampuannya dalam ruang-ruang kelas.
    Semoga pembangunan merata yang juga diikuti dengan meingkatnya kualitas pendidikan di pelosok-pelosok.

    • iya pak. Sampe bingung musti gimana. Institusi sendiri kerepotan karena kepentok aturan pemerintah untuk wilayah timur ini pak.

      Mudah2an saja, akses ke pendidikan dasar dan menengah semakin baik diiringi kualitas yang juga meningkat. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s