Pilihan

Hari ini, saya melepaskan sebuah tawaran untuk menghadiri interview pekerjaan di sebuah perusahaan air minum afiliasi perancis dan pemerintah ibukota. Padahal, –jujur saja– ini adalah pekerjaan yang saya impikan. Salary, prestise, jenjang karir, Insya Allah terbuka lebar. Izin suami sudah diperoleh bulat tanpa syarat apapun yang artinya tidak ada masalah.

Awalnya sedikit kaget ternyata saya  terpilih menjadi salah satu kandidat di perusahaan mereka. pikir saya waktu itu, masa’ sih perempuan seumur saya, sudah menikah pula,masih bisa keterima? tes demi tes pun saya jalani dengan santai tanpa harapan yang berlebih. Dan ketika tiba kabar interview yang kurang lebih sekitar 70% positif ,-karena 100% keputusan final turun setelah tes kesehatan- saya memilih untuk melepasnya. Lalu apa alasannya hingga  tetiba saya memutuskan untuk melepaskan kesempatan berharga sekaligus mimpi saya?

Alasannya sederhana saja menurut opini di kepala saya. Dulu, mungkin itu adalah mimpi yang dimiliki setiap perempuan. Bekerja di perusahaan asing dengan gaji tinggi dan jenjang karir yang menjanjikan. Fasilitas kesehatan dari ujung kaki hingga kepala di tanggung oleh pihak perusahaan belum lagi jatah rekreasi yang bisa sampai ke luar negeri. Rasanya lelah dan rasa payah saat menuntut ilmu di bangku kuliah terbayar tuntas. Dan ini tidak salah. Bukankah orang tua juga bahagia jika anaknya bekerja dengan gaji tinggi?

Tapi itu dulu, saat status saya masih lajang. Setelah menikah, prioritas dan mimpi saya pun berubah drastis. Keputusan mengenai prioritas dan mimpi yang berubah ini murni datangnya dari diri pribadi tanpa intervensi suami. Ternyata menikah itu berpengaruh besar pada pengambilan keputusan. Padahal ini adalah tentang saya dan mimpi saya, yang seharusnya tak terkait dengan siapapun, tapi tak semudah itu.

Semenjak menikah, saya harus berfikir panjang kedepan. Pengambilan keputusan jika perlu pake metoda SWOT -ini lebay-. Maksudnya kurang lebih begini, jika keputusan saya itu adalah A, maka saya harus berfikir pula efek dari A ini terhadap saya dan suami. JIka pun ada titik tengah dan solusi dari A ini, maka kami berdua tetap butuh skala prioritas yang tidak mengakibatkan kami berdua menjadi merugi. Setiap keputusan berefek besar pada rencana rencana yang sudah kami bu

Kembali pada mimpi saya untuk bekerja di perusahaan besar, gaji dan karir yang jelas. Walaupun suami sudah mendukung penuh keputusan untuk pindah dari bandung ke ibukota, tapi di detik terakhir saya menyadari, bahwa sekarang passion saya bukan disana. Saya tidak ingin terjebak dengan rutinitas pekerjaan yang melelahkan dan menyita waktu. Pekerjaan dengan gaji dan tunjangan besar sebanding lurus dengan beban dan tanggung jawab yang dituntut. Istilah kasarnya, hidup kita dibeli oleh gaji dan tunjangan. Jika pekerjaan saya seperti itu, lalu apa yang bisa saya berikan pada orang yang sudah mau membagi hidupnya dengan saya dalam hal ini suami.

Lalu apa sih sebenarnya mimpi dan prioritas saya saat ini? Saya ingin bekerja di rumah sambil mengurus keluarga. Tapi mencari sebuah pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah pun bukan hal mudah. Jadi pilihan terakhir hanyalah tetap diam di tempat saya sekarang ini, mengurus anak anak di kampus, dengan waktu yang cukup fleksibel dan tak terlampau melelahkan.

Dengan kondisi seperti ini saja, saya masih keteteran dan jumpalitan ngatur waktu ngurus suami dan pekerjaan. Lha, apa kabar suami dan rumah kalo saya jadi wanita karir yang hidupnya dibeli oleh gaji dan tunjangan selangit? Lagipula, bener kata ibu mertua saya, pekerjaan yang paling compatible untuk perempuan itu guru. Bener juga sih, temen temen saya yang udah berumah tangga pun bisa dengan leluasa bawa anaknya ke kampus, lalu ngajar sambil gendong anak. Atau, kalaupun urusan rumah ga bisa ditinggal, ya tinggal cari jadwal kuliah pengganti. Simple kan? sesimple gaji yang diterimanya juga sih  *curhaaat* 😀

Tapi kalo diliat dari gaji, kacamata islam kan fair banget. Istri tuh bukan yang mencari nafkah, tapi menerima nafkah. JAdi, gaji simple pun tak usah jadi bikin hati sesak dan kening mengkerut. Toh, masih ada suami yang menanggung semua kebutuhan hidup kita kan? *nyengir jail*

Jadi, saya  meninggalkan mimpi besar saat masih lajang dan memilih untuk melakoni hidup dengan skala prioritas dan mimpi milik kami berdua. Semoga Allah memudahkan. Amiin

-30Mei2013-

Iklan

4 thoughts on “Pilihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s