Sebuah Idealisme yang (kembali) tergusur..

Awal tahun ajaran baru sudah hampir berjalan satu bulan. Banyak cerita yang berhamburan dari para orang tua, juga anak anak. Tak lupa pula, sedikit keluhan akan mahalnya biaya buku penunjang pelajaran seperti LKS (Lembar Kerja Siswa). Sudah menjadi rahasia umum, jika jenjang terendah di level sekolah dasar pun tak lepas dari LKS. Jika satu mata pelajaran diharuskan dilengkapi dengan satu buah LKS, maka untuk level SD kelas 1 yang memiliki kurang lebih 10  mata pelajaran, maka terdapat 10 LKS yang harus dibeli para orang tua. Saya tidak akan menyoroti masalah uang yang akan di keluarkan demi 10 buah LKS itu, tapi sedikit menyinggung beban akademik mereka.

Tulisan ini hanya sebuah refleksi akan keprihatinan  sebuah sistem pendidikan di negeri kita. Sementara, satu sisi sayapun terlibat di dalam sistem tersebut dan tidak bisa berbuat banyak.

Baru saja kemarin saya berkomentar untuk sebuah tulisan pak hensam tentang beratnya beban akademik seorang anak SD (http://hensamfamily.wordpress.com/2012/09/14/soal-cerita-matematika), ternyata rekan saya tersandung masalah yang sama.

Rekan saya seorang ibu dari dua anak yang kembar. Dan keduanya baru saja masuk Sekolah Dasar. Rekan saya ini idealisme nya sama, yaitu tidak berusaha membebani sang anak dengan kurikulum yang berjubel ala sekolah terpadu, hingga memilih untuk menyekolahkan sang anak di Sebuah SD Negeri.  Sejak TK mereka tidak dituntut untuk bisa membaca dan menulis termasuk berhitung matematika. Kami berprinsip, bahwa akan ada saatnya sang anak tergugah untuk bisa membaca selama lingkungannya mendukung ke arah tersebut, ya..seperti terbiasa melihat ayah ibunya membaca surat kabar, majalah atau buku.

Tapi hal ini tidak bisa diterapkan secara bebas.  Rekan saya sebagai orang tua, merasa berkejaran dengan waktu. Belum genap 2 bulan sang anak bersekolah di SD Negeri, tetiba menangis dan mogok sekolah. Usut punya usut, ternyata sang anak merasa malu karena seisi kelas sudah bisa membaca sementara dia belum . Hal ini diperparah dengan kondisi guru yang sedikit emosi karena menyadari di kelasnya masih ada anak yang belum bisa membaca.

Sistem pendidikan di negeri ini masih bertumpu sepenuhnya pada hardskill atau  akademik yang dibuktikan dengan angka sebagai representasi mampu. Sistem hardskill menggunakan IQ  (Intelligance Quotient) yang mencirikan skor rata-rata kecerdasan seseorang.  Sementara kita semua tahu, bahwa setiap tingkat kecerdasan orang berbeda-beda. Hingga beban akademik yang ditekankan pun melebihi kapasitas individu. Tak jarang, karena tuntutan nilai A dan demi kelulusa, seseorang berani mencontek bahkan mengakui hasil karya orang lain. Ini adalah hasil dari pendidikan yang penuh dengan beban akademik.

Mungkin pemerintah kita lupa, ada soft skill yang harus dikembangkan. Softskill ini kemampuan sosial yang harusnya diterapkan saat seseorang masih berusia kanak kanak. Softskil ini adalah kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain.  Semacam kemampuan untuk berinteraksi, komunikasi, empati, kegigihan, kemauan dan budi pekerti lainnya. Satu hal yang patut kita ingat, kemampuan soft skill seseorang tidak bisa diciptakan instan, tetapi terbentuk oleh interaksi lingkungan sepanjang usianya.

Nah, jika beban akademik (hardskill) seorang anak SD begitu berat, lalu kapan anak  akan mengasah kemampuan soft skill nya? Jadi, jangan heran jika hari ini bahkan sepuluh tahun mendatang, masih banyak orang pintar yang berlaku curang, masih ada anak muda yang tak mau membantu orang tua menyebrang jalan atau memberikan tempat duduknya di bis, dan makin banyak anak muda yang pintar tapi tidak tangguh alias mudah menyerah.

Kami -saya dan rekan saya- sedih dengan fenomena ini. Maka, saat secuil idealisme kami terpaksa tergerus lagi demi sebuah sistem, tak ada yang bisa kami lakukan. Kecuali hal kecil saat kami berdiri di depan kelas lalu berbicara dengan lantang pada sosok sosok muda di hadapan kami ” Di Kelas ini, salah adalah hal yang diperbolehkan tapi berlaku curang adalah hal yang HARAM”

Secuil nilai integritas yang kami coba tanamkan pada sosok muda calon pemimpin negeri ini. Sebuah idealisme yang tersisa..

Iklan

3 thoughts on “Sebuah Idealisme yang (kembali) tergusur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s