Sejumput Kecewa…

3 minggu terakhir di bulan juli ini menjadi minggu yang berat. Berat karena secara psikis, saya sudah tidak mau menjalani nya. Setiap hari cemas akan hal yang akan dijalani. Bisa dibayangkan, setiap pagi harus memotivasi diri sendiri. Bahwa apa yang akan dijalani hari ini adalah yang terbaik.  

 

Ya,, masalahnya adalah bukan kejenuhan akan suasana kerja. Tapi lebih ke interaksi antar rekan. Selama 2 bulan ini ritme kerja meninggi. Tugas lapangan dan luar kota berderet di schedule task. Menaati sistem yang berlaku. Artinya, sadar akan tugas dan wewenang.

 

Dan inilah yang terjadi. Jika seorang sudah tidak amanah dalam pekerjaan yang menjadi tanggung  jawabnya, padahal dia berwenang penuh. Kerjasama untuk pertama kalinya, ada sejumput kecewa. Kerjasama yang kedua, antisipasi agar kejadian yang sama tidak terulang, tapi ternyata lebih buruk dari kejadian pertama. Ada kesalahan fatal yang berusaha ditutupi.

 

Ternyata, kesalahan fatal yang ditutupi itu akhirnya terbuka tanpa disengaja. Saat  record data lapangan yang dibuat tidak sesuai dengan apa yang dilaporkan. Yang disayangkan, dan ini yang membuat saya teramat kecewa, adalah bibir nya tertutup untuk mengatakan apa sebenarnya yang terjadi.  Tidak keluar pembelaan atau sanggahan. Kalaupun ada kalimat yang keluar, itu tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya. Dan kuorum menyatakan bahwa dia tidak bersalah, tapi  yang  bersalah adalah saya.

 

Saat itu juga, kemarahan menguasai diri. Betapa ingin mencaci maki demi semua fakta yang diputarbalikkan. Data yang berserakan, satupun tak ada yang berbicara,tak ada yang dipercaya. Tapi kemarahan itu berusaha ditekan. Otak mengirimkan sinyal husnudzan dan hati dipaksa menerima. Biarkanlah…dan sinyal husnudzan itu telah berlangsung sejak  2 (dua) tahun lalu.

 

Dan inilah yang terjadi. Hati berontak demi sebuah pembenaran yang selama ini dikirimkan otak.  Jika nurani protes, tidak mau lagi menuruti apa yang diperintah otak,  akibatnya raga yang menjadi tempat bersemayamnya otak dan nurani menjadi kebingungan. Ambigu.

 

Jika kemudian raga menjadi letih, karena sinyal otak yang terus dikirim selalu pending karena frekuensi yang berbeda dengan hati, lalu siapa yang salah? Apa sebenarnya yang terjadi? Disela proses perbedaan frekuensi itu tengah berlangsung, yang terjadi adalah diam. Tak ingin melakukan apapun. Rehat . Dan disinilah…terdiam mencoba menemukan kembali frekuensi yang hilang. Mencoba menyamakan kembali frekuensi otak dan hati. Hingga raga tak lagi letih.

 

Semoga.

 

-Juli 08-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s