rambling things -tentangmu dan hidupku-

Kembali menulis di MP tepat 2 bulan setelah posting terakhir di 12 juli 2011. Kemana saja selama ini?? hmm… banyak hal yang terjadi selama 2 bulan ini. Hal hal yang kecil, hal hal besar, unpredictable, juga yang membolak balikkan hidup saya.

Juli hingga September 2011, saya fokus pada final project yang menuntut perhatian dan konsentrasi penuh. Saya ingin cepat  kelar. Alasan utamanya itu, dan alasan lain adalah pekerjaan saya di kampus akan segera menumpuk dan padat begitu memasuki bulan Oktober ini. Maka tidak ada pilihan selain fokus dan ngebut.

Saat ramadhan menjelang, Saya masih sibuk dengan revisi dan seminar. Ada banyak waktu terbuang gara gara jadwal seminar yang berubah menunggu rekan yang lain. HIngga mundur sekitar 2 minggu dari  jadwal yang ditentukan. Sedikit mempengaruhi mood, tapi alhamdulillah.. dijalani dengan baik.

Pertengahan Ramadhan, tepatnya tanggal 25 Agustus, mamah sakit. Alhamdulillah saat itu kantor sudah libur dan sekolah saya sudah 80% kelar hanya tinggal menunggu sidang di 10 September. Kondisi kesehatan mamah yang sedikit melemah menuntutnya untuk tetap di tempat tidur. Jadi terkadang saya mengerjakan revisi tepat di samping mamah. Jadi saya bisa menunggui sekaligus menemani mamah. Takut kalau beliau butuh sesuatu, jadi bisa cepat. Sejak pulang dari dokter (mamah ga mau dirawat di  RS), mamah resmi pake pampers. Jadi, jobdesk saya saat itu adalah :
– nyiapin makanan sahur untuk anggota rumah
– cuci piring, beres beres rumah
– Mandiin mamah (tepatnya di Lap), Ganti Pampers-nya, Ganti Baju sampe bikin mamah cantik
– Lanjut nyuapin mamah dan minumin obat
– Belanja ke Pasar trus cuci baju dll
– Saat waktu shalat bersiap ganti pampers mama, pakein mukena, lanjut nyuapin mamah dan minumin obat mamah
– Persiapan masak dan masak untuk Buka Shaum
– buka laptop dan revisi (kalo sempet) karena mamah juga harus sering ngemil
– Lap mamah dan ganti pampers  mamah lagi
– Buka Shaum, lanjut Sholat deket mamah sambil ngiris bawang dan bumbu buat sahur

Hal hal diatas rutin saya jalani selama Ramadhan ini. Biasanya, saya sempatkan tarawih di Mesjid Salman, Mesjid Istiqomah atau Mesjid Pusdai. Tapi Ramadhan kali ini saya fokus mengurus mamah.

Hingga hari raya idul fitri 1432 H tiba (31 agustus 2011), saya hanya  bersilaturahmi ke tetangga terdekat, tidak ke rumah sanak family. Kondisi mamah lah yang menyebabkan saya tetap di sampingnya. Tidak beranjak sedikitpun.

Lalu tiba dimana dini hari menjelang subuh 1 september 2011 (2 Syawal 1432 H) saya mendapati mamah menjelang sakaratul maut. Ketika kedua tangan, kaki dan wajah mamah -yang saat itu tidur tepat disamping saya- mulai dingin. Prosesnya berlangsung cepat dan (nampak) tidak menyakitkan. Padahal saya tahu, saat nyawa ditarik perlahan, rasa sakit nya luar biasa. Tapi mamah terlihat tenang dan tidak berkeringat sama sekali. Bahkan suara nafasnya pun tidak berbeda layaknya dia bernafas biasa. Sesaat sebelum lidah mamah ditarik, mamah sempat minum 3 sendok air putih, minta rambutnya di sisir, minta menggosok gigi dan minta diganti pampersnya. Saat ini saya mengerti mungkin mamah ingin bersih saat menghadapNya. Lalu kata terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat “laa ilaaha ilallah”. Lalu usai itu lidah mamah tertarik dan dalam hitungan menit roh itu berpisah dengan raga.

Jam 4.20 wib. Saat itulah hidup saya bolak balik. Saat saya kehilangan (lagi) orang yang teramat saya sayangi. Dalam hitungan jam saya harus mengurus jenazah mamah mulai dari memandikan, mengkafani hingga mengurus pemakaman dll. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga pemakaman usai.

Saya menangis saat bertemu dengan sepupu saya. Lainnya, air mata itu tak mengalir. Kata orang, saya tegar dan ikhlas ngelepas mamah. Mungkin ada benarnya, saya ikhlas ngelepas mamah  karena beliau pergi dengan tenang dan dengan cara yang baik, Insya Alloh husnul khatimah. Tapi ada juga salahnya, saya tidak tegar. Karena tepat 24 jam setelah beliau dipanggilNya pulang, yaitu adzan subuh pertama tanpa ada mamah, saya menangis sesenggukan tak bisa berhenti. Lalu hingga hari ini pun, saya masih tetap menangis setiap adzan subuh bergema.

Saat saya masih membiasakan dengan keadaan baru, saya harus menyiapkan draft Sidang. Hati saya gentar, ketar ketir. Dititik mana saya membutuhkan hamburan doa, beliau tak ada. Lalu kemana saya harus meminta doa untuk semua restu? Saya maju tanpa dukungan doa mamah. Bismillahhirrahmanirrahiim.. dan semua dimudahkanNya. Alhamdulillah

Hari ini, saya tengah me-revisi laporan akhir. Sambil berbincang dengan mamah. Karena saya tahu, dia ada hanya saja tak teraba. Saya juga mulai membiasakan diri dengan membawa kunci rumah setiap hari, tidur sendirian dan mengerjakan semua tugas rumah sendirian. Sambil berbincang dengan beliau di ujung sajadah.

“Mah, teteh udah lulus sidang…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s