…penat…

Sebulan sudah saya lenyap dari MP. Bersahabat dengan tenggat, statistik, matahari yang garang memasuki awal kemarau, mengejar orang-orang di instansi terkait yang bikin bete saking sulitnya ketemu, nilai anak anak , hingga berasa terkurung dari  berbagai sisi. Nikmat?? sangat…

Di tengah gempuran semua hal itu, emosi saya sedikit tidak terkontrol. Hingga sedikit saja orang tidak membalas sms, tidak mengangkat telpon, atau bahkan tidak menanyakan kabar saya pun, maka mereka ibarat menyiram bensin ke bara api. Saya merasa tidak diperhatikan, merasa diabaikan. Belum lagi jika saya harus berhubungan dengan hormonal things alias PMS. Huffth.. menggila rasanya. Ditengah semua itu, tiba tiba PC saya pun mendadak mati. Alhasil, saya mengerjakan semua itu di sela sela pekerjaan kantor. Mengantisipasi kejadian buruk terulang lagi- draft menghilang- maka saya menyimpannya di Email. Bolak balik saya mengerjakan itu semua. Cari orang, minta data, olah data, bimbingan, revisi. Begitu saja siklusnya.

Lalu tiba tiba ahad sore di akhir bulan mei kemarin, kepala saya berdenyut kencang dan sakit berasa di tusuk ribuan jarum disertai perut yang mualnya tak tertahankan. Hingga usai sholat ashar, semua isi perut tumpah ruah tak tertahankan dan berakhir saat isya menjelang. Obat penahan sakit kepala tak membantu, saya tetap harus terbangun tengah malam demi meminum kembali obat penahan sakit itu. Sedikit over dosis mungkin.

Esoknya, saya cek ke RS dan setelah observasi singkat plus cek hematologi lengkap, kesimpulannya  harus istirahat 3 hari di rumah. Oleh oleh pun didapat, yaitu obat sakit kepala dosis tinggi. Dan satu kata yang melekat di otak saya hingga sedikit timbul rasa was was. Kontrol untuk bertemu dokter Spesialis syaraf.

Ada satu penyakit yang dokter duga saya idap dan itu berhubungan dengan pembuluh darah dikepala saya. Googling dan googling – berhubung saya orang teknik- akhirnya saya sedikit mengerti dugaan awal dokter. Cemas? sangat !! tapi saya tak boleh panik dan stress, karena saya juga harus memastikan kondisi psikis saya cukup stabil. Hanya butuh ketenangan dan pasrah saja untuk apa yang digariskanNya. Toh, saya pun belum bertemu dengan dokter syaraf dan melakukan CT Scan atau MRI. 

Lalu, disaat yang sama, Allah mencurahkan semua CintaNya pada saya. Gempuran demi gempuran -yang tidak pernah saya harapkan- mengungkung saya di satu sudut diri. Gempuran ini membuat kepala saya berdenyut lebih kencang, dan dada saya sesak. Saya harus berdiri tegar ditengah gempuran badai yang menggila. Sendiri. Betapa tidak mengenakkan.

Dan saya hanya berharap, semoga semua hal ini bisa saya lewati. Badai mereda di tengah tenggat yang semakin mendekat. Walaupun -jujur saja- saya teramat sering meragu dengan kemampuan saya untuk bertahan. Tanpa dukungan, tanpa suntikan semangat yang teramat saya butuhkan disaat ini. Dan satu lagi, tidak mempengaruhi kondisi psikis yang tentunya beresiko terhadap kondisi kesehatan saya.

Jadi, saya menyerahkan semua padaNya. Pemilik hidup dari setiap jiwa yang bernyawa. Menjalani dengan berfikir positif, yakin atas semua jalanNya, percaya semua janjiNya. Menyerahkan semua hal yang tengah terjadi padaNya, meyakini inilah cintaNya, bentuk perlindunganNya, bukti pertolonganNya untuk jiwa  yang tengah menguatkan diri.

Insha Allah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s