Menunggu Maaf..

Menyalahkan adalah perkara mudah. Tapi mengakui kesalahan diri adalah hal tersulit. Pun, memaafkan adalah hal mudah,tapi meminta maaf adalah perkara sulit. Menghadapi orang yang dikuasai emosi, lalu menjadikan kita sebagai tersangka bahkan tertuduh utama,dengan mengabaikan berbagai hal,bukan perkara yang mudah.

 

Mematung, dengan dada sesak, dan mulut yang terkunci. Betapa sebenarnya aku pun ingin meledak. Mengatakan bahwa semua yang dikatakannya tidaklah benar. Diam mendengarkan, Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

 

Lalu, istighfar mengalun dari sudut hati terdalam. Mencoba tetap tidak terpancing. Membuka telinga dan hati,tapi tetap mengunci mulut. Tak akan mengeluarkan sepatah katapun demi menyangkal apa yang terlontar. Diam. Itu yang paling realistis.Tapi jujur,,sulit sekali menahan emosi.

 

Hingga 10 menit berlalu, dan diri kembali disergap sepi. Mengubah posisi, dan tak henti beristighfar. Mencoba mencerna kembali semua kata yang berhamburan dari sosok yang selama in dihormati.Mata ini memanas, sementara otak mencoba merunut kejadian kejadian lalu yang mungkin berkaitan dengan apa yang dituduhkan. Berbagai excuse demi meningkatnya husnudzan terus dikirim oleh otak. Mungkin memang aku yang salah.

 

Banyak pihak menyarankan untuk melakukan tabayyun, sekaligus membuktikan pihak yang salah. Tapi, dengan kesadaran penuh, diri ini tak hendak mengajukan pembelaan diri. Buat apa? Jika memang mata dan hatinya sudah tertutup dengan cap yang dilontarkan terhadap diri, sebanyak apapun data dan fakta yang diajukan, hanya akan menambah cap itu tertanam kuat di benaknya. Biarlah waktu yang membuktkan apa yang sebenarnya terjadi. Selama diri berproses untuk tetap melakukan hal yang terbaik dari sisi manapun,insya allah,,semua akan terbukti.

 

Tak ada permintaan maaf untuk kata kata yang terlontarkan, hingga seminggu berlalu. Tak perlu instruksi untuk memaafkan. Tapi, jauh di lubuk hati terdalam..diri ini mengharapkan untuk sepatah kata maaf .Untuk kata kata yang terlontar, yang begitu berbekas. Serupa anak panah yang terlepas dari busurnya, tak akan kembali lagi.

 

Mengapa begitu sulit untuk meminta maaf ? Karena ternyata meminta maaf bukanlah perkara mudah. Didalamnya ada ego, juga gengsi yang begitu tinggi. Sebuah nilai keakuan diri dari manusia yang lemah. Maka, dibutuhkan keberanian untuk mematahkan ego, juga gengsi. Demi sepatah kata maaf.

 

ps. Menunggu permintaan maaf bukanlah menunggu godot.

 

-juli 2008-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s