Mencari Jurus Anyar

Dalam sebuah pekerjaan, interaksi antar lawan jenis adalah sebuah hal yang pasti. Apalagi jika pekerjaan itu layaknya didominasi oleh kaum pria. Karena tuntutan pekerjaan pula, saya sering diturunkan kelapangan dengan sejumlah pria dalam jangka waktu yang ditentukan. Layaknya sebuah interaksi, ada batasan batasan tertentu yang harus saya jaga sebagai seorang perempuan yang belum menikah.

Bukan tanpa alasan, jika saya lebih sering membahas hal hal umum dan global dibanding hal hal yang sedikit menyinggung ke daerah “rawan”. Apalagi jika ditugaskan dengan sejumlah bapak-bapak yang sudah berumahtangga (omongannya…deuuuh….bikin panas kuping)..saya selalu ekstra hati hati.

Pernah, di awal awal pekerjaan, saya dihubungi oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai istri dari salah satu klien dan menyuruh saya untuk menjauhi suaminya. Sedikit kaget dan berterimakasih di satu sisi. Berterimakasih, karena saya diingatkan untuk lebih bisa menjaga diri. Kaget, karena saya merasa bahwa apa yang saya lakukan selama iniĀ  masih dalam batas kewajaran seorang rekankerja. Tapi, saya pun tidak bisa menyalahkan sang istri, karena mungkin ini juga ada kontribusi kesalahan saya.

Sejak saat itu, untuk setiap rekan kerja berbeda gender di tim (yang selalu berganti ganti) saya memberlakukan peraturan, setiap kali saya menghubungi mereka via telepon, saya meminta untuk memasang loudspeaker. Sehingga percakapan antara saya dan mereka dapat terdengar oleh orang sekeliling. Bahkan hal yang lebih ekstrim lagi pernah saya lakukan, yaitu memaksa untuk bertemu dengan keluarga mereka masing masing dan memperkenalkan diri saya sebagai partner , berikut job desk saya di tim mereka. Hingga tak ada kecurigaan dan kecemburuan dari masing masing pihak.

Awalnya,cara itu berhasil. Sedikit demi sedikit tumbuh kepercayaan diantara pasangan mereka. Nama saya beredar di kalangan istri dan calon istri mereka, sebagai rekan kerja yang insha 4WI, lurus dan dapat dipercaya. Bukti, bahwa saya berhasil menjaga iffah diri dan keutuhan rumahtangga mereka (cieeee,,,hehe). Tapi seiring waktu, bapak bapak dan mas mas yang pernah menjadi rekan saya malah jadinya sering menghubungi dan curhat tentang permasalahan rumah tangga dan hubungan mereka. ALasannya apalagi, kalau bukan karena saya berada di lingkaran aman yang tidak dicurigai oleh pasangan mereka.

Bukan tanpa alasan saya menolak dicurhatin, saya meyakini bahwa urusan rumah tangga adalah urusan domestik yang tak seharusnya diketahui oleh oranglain diluar lingkaran. Urusan ini lebih membahayakan dibanding kecemburuan yang ditimbulkan. Jurus sementara yang saya gunakan adalah Jarang membalas sms dan Jarang mengangkat Ponsel jika dihub oleh mereka.

Entah sampai kapan jurus ini saya berlakukan…deuh…musti cari cara ampuh lainnya..

Juni 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s