Matur Nuwun bu..

Sepertinya saya harus mulai belajar menata  hidup untuk kemudian mensyukurinya.

Ahad pagi, saya janji untuk bertemu dosen, tapi tidak untuk bimbingan (hehe..). Beliau minta bantuan saya untuk mengurusi Laboratorium kampus lain tempat beliau mengajar yang sedikit bermasalah. Beliau bilang sih, saya expert di bidang itu..(deuh..alhamdulillah..blushing gini..)

Dosen saya ini usianya sekitar 55 tahun, Titelnya Doktor, dan Tidak menikah.  Saya tidak akan membahas statusnya. Itu bagian dari privacy beliau yang teramat saya hormati. Beliau adalah  dosen favorit saya. Hampir setahun saya tidak bertemu dengannya.

Saat kemaren bertemu, saya akhirnya tahu. Bahwa setahun ini, beliau terkapar karena kanker rahim, dilanjut dengan proses kemoterapi dan sekarang sedang dalam kondisi pemulihan. Saya kaget saat bertemu dengannya, karena kepalanya cenderung botak, dan tubuh beliau terlihat lebih ringkih.

Hingga sekarang, beliau masih menyetir sendiri mobilnya, walau tangan kirinya masih lemah. Menulispun sudah gemetar karena ujung jarinya kebas ( tak berasa apapun ). Lalu, disela diskusi tentang laboratorium, beliau menanyakan kemajuan proposal dan final project saya. Begitu tahu kalo itu sedikit tersendat, beliau berkata ” setiap kita bertarung dengan takdirNya di setiap waktu. kita tidak tahu, apa yang akan Tuhan hadiahkan esok hari. Sehat ataukah sakit, itu bentuk Kado spesial dariNya. Jangan sampai ada kata malas. Bergerak selama tubuh masih mampu. Itu adalah bentuk Syukur atas semua nafas yang masih dijatahkanNya.”

Dan mata saya berkaca kaca..

Matur Nuwun bu,,,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s