Jeda

Sebulan ini saya bermasalah dengan beberapa mahasiswa. Saya tidak mau menjustifikasi, tapi situasi ini memaksa saya merunut kembali metode yang saya pakai.

Periode semester ini dimulai tak lama setelah saya usai menyelesaikan final project sehubungan dengan study saya, tepatnya bulan oktober. Sejak saat itu beban pekerjaan di kampus dan pekerjaan lainnya datang tanpa jeda. Saya diserahi mengawasi 9 mahasiswa yang sedang penelitian tugas akhir, dan 2 shift praktikum yang dibantu 2 asisten baru. Sementara pekerjaan lain sehubungan dengan aplikasi ilmu di luar kampus. Sekedar membantu sahabat saya menyiapkan materi pelatihan dan sedikit pekerjaan teknis lainnya.

Sejauh ini pekerjaan kampus dan lainnya dijalani dengan lancar tanpa kendala berarti, Alhamdulillah. Tapi, mendadak menjelang libur akhir tahun, saat praktikum terakhir, emosi saya terpancing. Saat satu praktikan  protes mengenai waktu pengumpulan laporan praktikum dengan cara yang “menurut saya” sedikit frontal. Frontal dalam artian, nada suara yang meninggi di akhir kalimat diiringi dengan bahasa tubuh yang “sedikit” meng-intimidasi dan pandangan mata marah. Sempat ingin membalas, tapi saya segera Istighfar dan mengubah posisi ke arah lain. Usai praktikum, dia masih sedikit emosional terhadap saya.

Yang kedua, seorang mahasiswa tugas akhir yang menganggap segala sesuatu mudah. Seperti sebelumnya, setiap kali seorang mahasiswa yang mengambil tema penelitian laboratorium, maka dia harus mematuhi semua aturan yang sudah saya buat. Salah satunya adalah pengajuan rencana kegiatan dan jadwal yang harus disepakati bersama. Hal ini menyangkut kondisi dan situasi di laboratorium yang “unpredictable”. Dan hampir 4 tahun, semua berjalan tanpa masalah. Lalu tiba tiba, kenapa kali ini dia seolah olah meng-konfrontasi saya dengan pembimbing utamanya? ujung-ujungnya saya harus bolak balik menjelaskan semua prosedur dan aturan yang diberlakukan pada pembimbing utamanya. Yang membuat saya kesal adalah, sang mahasiswanya sendiri masih merasa tak bersalah dan merasa semua hal baik baik saja. Astaghfirullah,,,

Situasi dan kejadian ini membuat saya tak habis pikir. Apa seperti ini attitude mahasiswa sekarang? Ataukah metode saya yang kolot dan tak sesuai lagi dengan zamannya? Lalu, apa sih metode yang sesuai dengan zaman ini?

Jujur, saya merasa lelah yang teramat sangat…Mungkin yang saya butuhkan hanya sebuah jeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s