Jaga Moral

Selasa, saat ujian seminar seorang mahasiswa, saya bertemu dengan seorang Dosen Senior. Seorang Bapak berusia menjelang pensiun yang sederhana. Bapak ini sejatinya berkantor di sebuah BUMN terkemuka di Indonesia bahkan dunia (dulunya), tapi karena kapasitas ilmu dan pengalamannya yang mumpuni di bidang pengelolaan limbah,maka beliau mau berbagi ilmu dengan menjadi staff pengajar di lingkungan kampus kami.

Ceritanya, di seminar itu hadir pula beberapa teman si mahasiswa yang sekarang sudah berkarier sebagai abdi negara di sebuah Badan yang mengurusi Lingkungan setingkat propinsi, dan seorang lagi di sebuah Badan yang mengurusi permukiman. ya, keduanya berkarier sebagai PNS.

Singkat cerita, kami semua seperti bertemu dalam sebuah reuni kecil. Karena, 2 orang alumni ini saat tugas akhirnya didampingi saya dan saat kerja praktek dibimbing oleh bapak ini. Maka, kami terlibat pembicaraan yang cukup menyenangkan saat menunggu seminar di mulai.

Usai seminar, kami kembali terlibat percakapan yang sedikit serius. Bapak ini bertanya kepada saya, kenapa tidak memilih berkarier sebagai PNS. Jawab saya, masih banyak bidang pekerjaan yang bisa dilakoni selain PNS. Dan bapak ini hanya tersenyum. Sementara, pada kedua alumni ini yang jelas jelas sudah berkarier sebagai PNS, dia hanya menyampaikan sebuah pesan pendek dalam dua kata : “JAGA MORAL”

Hingga usai percakapan di ruang sidang dan Bapak kembali ke kantornya, dua alumni ini masih juga tidak mengerti makna dibalik pesan yang disampaikan beliau. Lalu, percakapan beralih ke ruangan saya. Dan seperti saya duga sebelumnya, mereka bertanya mengenai pesan tersebut.

Saya mencoba menjelaskan maksud pesan itu dalam kalimat yang sederhana dan berusaha tak menyinggung pihak manapun. Saya hanya berkata, ” Jaga Moral bermakna sikap Hati Hati dan mawas diri. Pegang apa yang menjadi nilai kebenaran di mata agama, bukan di mata publik”

Apa yang saya katakan kepada mereka bukan tanpa alasan dan tolok ukur yang jelas. Betapa banyak teman saya yang Idealis, tiba tiba berubah dan berbalik arah, terjerembab dalam pusaran nilai benar di mata publik. Menjadi begitu terbiasa dengan hal hal yang dulu teramat mereka tentang. Lalu saat saya  bertanya tentang nilai kebenaran yang dulu pernah diyakini, mereka hanya berujar, ini adalah hal yang terbiasa di negeri ini.

Hitam dan Putih adalah warna pembeda, penegas antara yang benar dan yang salah. Tapi saat ini, di ranah abdi negara, warna itu membaur membentuk satu warna baru. Abu abu. Warna yang tak jelas, untuk penggambaran benar dan salah. Di area ini nilai benar dan salah berdasar hukum “terbiasa, kebiasaan dan umumnya”.

Pengalaman saat berhubungan dengan birokrat di departemen hingga dinas dan kelurahan, area abu abu menjadi hal yang biasa dan umum. Bahkan, saat diri mengurusi sebuah proyek berbasis masyarakat, betapa sering saya harus mempersiapkan berpuluh amplop berisi upeti sebagai pelicin. Dan saat saya sengaja tidak memberikan amplop yang dititip manager proyek, maka jangan harap data yang dibutuhkan turun. Kali lain saat  usai rapat dengan para petinggi demi mengurusi proyek pemerintah, betapa sering petinggi petinggi itu menghampiri dan meminta tambahan upeti dengan lancangnya tanpa rasa malu,  atau meminta dikonversi dalam bentuk lain seperti makan di hotel berbintang, oleh oleh atau tiket wisata.

Maka, inilah satu alasan saya tidak berkarier sebagai abdi negara. Saya hanya takut, jika benteng keimanan saya tidak cukup kuat membendung semua hal di ranah abu abu. Dan menjadi bagian dari lingkaran setan yang tak tahu ujung pangkalnya. Walau saya tahu, di sana, di dunia abdi negara , masih teramat banyak tipikal orang orang idealis yang terpaksa bertahan dengan nilai kebenaran agama yang berusaha dipegang teguh. Tapi mereka sendirian, terasing!! Lalu sampai kapan mereka bertahan sementara gempuran itu begitu dahsyatnya menggerus benteng idealisme mereka?

Seperti siang itu, saat seorang alumni membuka sebuah amplop yang diterimanya tanpa tahu asal muasalnya. Hanya bertuliskan  “uang munggah” di cover amplop. Saat dibuka, beberapa lembar uang  bergambar dua orang Proklamator menyembul dari dalamnya.

Lalu , kami bertiga kemudian tersenyum dengan menyimpan sekelumit risau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s