Dia dan Rasa itu..

Saat sebaris pesan ringkas (sms) masuk di sela kepadatan jadwal, kadang menjadi penawar akan rasa letih. Ya,,sebaris pesan yang menjadi penyemangat di ujung penat. Isinya tidak penting, tapi pengirimnya adalah seorang yang teramat sangat saya rindukan. Hampir 2 tahun sudah saya tidak bertemu sosok itu. Terpisah jarak yang merentang.

Dan kabar yang dibawanya begitu menggembirakan. Dia berada sangat dekat sekali. Hanya berjarak 100 m dari tempat saya berdiri. Tanpa pikir panjang, saya mengajaknya bertemu walau sesaat di sela pelatihan yang sedang diikutinya.

Saat senja beranjak gelap, kami bertemu di sebuah hotel tempatnya menginap. Peluk erat dan ucap syukur tak henti mewarnai. Serasa menemukan kepingan diri yang hilang. Semua rasa berbaur melebur menjadi tangis. Bahagia sekali saat 4WI masih memberi kami kesempatan untuk bertemu.

Sadar akan waktu yang tak banyak, di lobi sambil menikmati rinai hujan kami bercakap. Bertutur tentang milyaran detik yang terlampaui. Terlewati tanpa mampu kami bagi satu sama lain. Kadang diselingi tawa kala teringat saat saat konyol yang dilewati. Celetukan spontan yang mengingatkan kami akan hal bertahun tahun lalu. Mengingat sejumlah ‘dia’, ‘dia’, ‘mereka’ bahkan ‘kita’. ‘dia’ yang sudah berada di negeri antah berantah, ‘dia’ yang sedang menyelesaikan studi, ‘dia’ yang nampak tak ingin dihubungi lagi, ‘dia’ yang mengirimkan kabar hanya satu bulan sekali dan ‘dia’ yang menghilang entah kemana.

Tak terasa, perbincangan itu mengarah pada jejak yang sempat terekam dalam benak. Saat dia mulai melangkah dan diri ini seolah berjalan di tempat. Ada banyak persimpangan yang dilewati dalam perjalanan itu. Langkah kakinya yang menjejak di satu titik untuk kemudian menjadikannya sosok dengan label yang berbeda. SEmentara saya, masih sama. Berjalan lambat dengan langkah kaki yang ringan. Ringan??

Tidak sama sekali. Saya berbagi dengannya, bahwa label yang melekat pada masing masing kita adalah ketentuanNya. Ada waktu untuk setiap individu yang dijatahkanNya. Jika memang berat, itu adalah amanah yang mampu dipikul.

Ketika detik itu kembali berdetak di titik perpisahan, diri ini kembali memeluknya. Ada hati yang tak ingin meninggalkannya. Ada rindu yang belum tuntas. Tapi hanya inilah yang diberikanNya. Kembali peluk hangat mengantarkan kami pada selaksa rasa.

Dan dipelataran hotel, kami berpisah. Ketika diri kembali melangkah, ada sejumput kesadaran. Ada kata yang melekat di ingatan. ‘bahwa semua yang dijalani adalah rahasia 4WI. tak ada yang luput dari kendaliNya. Ditemani atau tidak, langkah kaki tetap berlanjut di sejengkal perjalanan yang bermuara pada akhir detik waktu.’

Dada ini lapang sudah..

de posters 170310

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s