Seni Memasak :)

Hampir menyentuh titik akhir minggu pertama ramadhan, ide masak sudah menipis. Menipis karena stok kabisa memasak masih berkisar di sayur bening dan tumis 🙂

Ya, sejak mamah ga ada otomatis pekerjaan menyiapkan sahur dan berbuka menjadi tanggung jawab saya sebagai anak perempuan satu satunya. Tidak ada yang repot ataupun sulit mengenai masak memasak ini, karena peralatan penunjang sudah begitu canggih. Tak ada memasak diatas tungku berasap berbahan bakar kayu, tapi tinggal putar tombol dan apipun menyala. Tak ada ritual memasak nasi dengan tahapan menanak nasi terlebih dulu, tapi tinggal cuci beras lalu masukkan ke alat pintar dan tekan tombol saja lalu biarkan beberapa saat dan.. matang. Tak ada ritual menggerus bumbu di atas cobek batu yang bikin lengan pegal, tapi tinggal masukkan bumbu ke alat pintar lalu tekan tombol dan bumbu pun halus.

Begitu mudah bukan? iya..saya tak hendak memungkiri semua kemudahan yang membuat sesi masak memasak bisa berlangsung dalam hitungan menit. Tapi masalahnya adalah ‘kabisa’ alias kemampuan memasak yang masih di garis amatir. Hal ini bukan tanpa usaha sama sekali. Kumpulan resep dari berbagai surat kabar dan majalah, mulai dari resep bertanda bintang 1 alias mudah hingga bintang 3 alias sulit, menjadi bekal. Website dan resep online pun tak luput dari incaran, hingga resep resep dengan tulisan tangan tertempel di wilayah lemari dapur atau geletakan di dekat tempat bumbu. Tapi, tetap saja tak berpengaruh.

Menurut orang orang yang sudah pakar di bidang masak alias ibu ibu rumah tangga teman kantor, mereka menyimpulkan bahwa memasak itu adalah seni. Karena bumbu yang dimasukkan juga terhitung terbatas, hanya seputaran bawang putih, bawang merah, merica, daun salam, daun bawang, kemiri, ketumbar,pala. Nah, seni itu adalah bagaimana cara mengombinasikan mereka hingga menjadi masakan. Hal ini berbanding lurus dengan frekuensi memasak. Jadi, ‘pada intinya, ‘kabisa’ memasak itu harus diasah. Duuh.. kening saya berkerut tanda berpikir keras .

Satu sisi hal tersebut memang benar. Bumbu masak yang saya punya hanya bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar dan kemiri. Selain itu? tidak ada karena saya kurang paham penggunaannya. Giliran ada ide memasak dengan acuan resep bintang satu, tetap diseleksi dulu. Jika ada bumbu di luar yang saya miliki, maka saya cenderung tidak akan membuatnya. Alasannya, apalagi selain tidak akan kepake lagi di masakan berikutnya? ujung ujungnya hanya numpuk dan kebuang deh. Nah mengenai frekuensi memasak, jujur saja, setiap hari sebelum ngantor,saya selalu memasak nasi dan menyiapkan minimal satu jenis menu sayur untuk orang rumah. Jenis masakannya bisa ditebak, tumis atau sayur bening -yang relatif mudah bumbunya- :).

Selama bulan ramadhan, frekuensi memasak semakin meningkat. Terutama saat sahur. Iya, saya memberlakukan cara yang sedikit berbeda. Saat berbuka, menu yang dihidangkan terhitung sederhana misalnya hanya tahu goreng, telur dadar dan sambel terasi kemasan. Sedangkan saat sahur, menu dibuat semenarik mungkin -tentunya dengan mempertimbangkan kemampuan memasak – misalnya sayur dan lauk yang lebih bervariasi. Khusus untuk sahur, saya memasak mendadak alias tidak menghangatkan. Alasannya apalagi, biar yang sahur sedikit penasaran dengan menunya, walaupun dari sisi rasa tak ada yang istimewa.

Tapi, baru juga seminggu, saya sudah kehabisan ide. Setiap kali membuka kulkas dan memelototi sayuran yang ada, cuma bisa diam dan berpikir, ini mau dibikin apa ya? Nah, tiba tiba saat melihat labu siam jadi kepikiran nanti sahur bikin lodeh. Tapi, kok isinya labu aja? ah, gimana nanti aja, kan memasak itu seni. apa aja yang penting cara mengolahnya 🙂

Lalu, ba’da maghrib labu itu sudah saya kupas dan iris kecil kecil untuk pesiapan sahur. Saat sahur, baru kepikiran, labunya mau ditambahin apa ya? buka kulkas dan nemu tahu. Usai bumbu ditumis, tambahin air, masuk labu, masukin cabe gendot, santan, garam, dan terakhir potongan tahu pin masuk panci.

Begitu tiba saat makan sahur, adik saya heran dengan sayur yang saya buat. Saat dia nanya
“ini sayur apa?” saya jawab enteng : “lodeh”. trus disusul ketawa nya yang ngakak.. “lodeh apa? kayaknya ini sayur tahu deh:)” Penasaran, saya cicipi labunya. Dan saya pun setuju, saat labu langsung lumer seketika di mulut tanpa harus susah payah mengunyahnya, mirip tahu.

Tapi, lodeh ataupun sayur tahu, seperti pakar selalu bilang, memasak adalah seni meracik dan mengolah. Seperti juga seni lukis aliran abstrak yang menyerahkan penikmat menerjemahkan apa yang dilihat dengan apa yang dipikirkan. Maka, begitu juga sayur lodeh buatan saya, yang diterjemahkan sebagai sayur tahu oleh penikmat masakan saya. Ya, itulah seni *

*sebuah alibi atas keterbatasan kemampuan saya dalam mengolah bahan makanan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s