..a note from your daughter

Mah..apa kabar?

Kalimat tanya yang aneh. Tapi mungkin itu adalah kalimat yang akan keluar jika saya diberi kesempatan bertemu dengannya. Walaupun sebenarnya kalimat itu adalah kalimat teraneh seumur hidup yang keluar dari mulut saya. Aneh, karena (dulu) saya terbiasa bercakap dengannya setiap saat, bertatap muka. Atau bahkan kami berdua berada di satu ruangan berteman satu kotak ajaib bernama televisi tapi kami sibuk dengan urusan masing masing. Teramat sering kami berdua tanpa bercakap tapi kami menyadari kehadiran satu sama lain.


Mungkin 70 hari sejak kepergiannya yang mendadak, rindu yang menggumpal berubah menjadi batu. untuk kemudian teramat sulit memecahnya. Kira kira situasinya akan lebih mirip saat saya bertemu dengan Bii Rain alias Joong Ji Hoon.


Saya suka semua hal tentang dia, dan teramat sangat ingin bertemu. Lalu ketika kesempatan untuk bertemu itu datang, semua ekspektasi dan kegirangan teramat sangat itu akan membuat saya sibuk. Mungkin saya akan memakai kostum terbaik, berdandan secantik mungkin, lengkap dengan bungkusan cantik berpita pink sebagai bingkisan, lalu berubah menjadi orang yang menyebalkan karena setiap detik nyerocos terhadap semua orang tentang apa jadinya saat saya bertemu Bii Rain.

Tapi, saat saya ada di hadapannya, maka semua hal itu “penting” yang ada di otak saya hilang. Mendadak menjadi orang bego dan tak berkata apapun kecuali mulut menganga lalu berlanjut dengan keanehan keanehan seperti berkata “Hai, apa kabar?”.

Jadi, segala kondisi itu akan mungkin terjadi saat saya bertemu mamah. Tapi saat saya bertemu dengannya, saya berharap keanehan akibat gumpalan rindu yang membatu itu hanya terjadi sedetik. Lalu detik berikutnya, saya akan menjelma menjadi anak yang menyebalkan. Saya akan meminta mamah untuk duduk di sebelah , lalu membiarkan saya rebah dengan kepala di pangkuannya. Kemudian refleks tangan beliau akan mengelus kepala lengkap dengan doa doa yang terburai tak terhitung dari mulutnya. Lalu saya akan mengambil sebuah buku dan membacanya perlahan hingga lantunan doa dan elusan lembut tangan beliau menjelma mantra terampuh pengantar lelap.

Atau saya akan memintanya untuk mengajari saya memasak. Tentunya bukan berarti saat ini saya tak bisa memasak. Perkara masak sayur bening seperti sayur bayam dan sayur sop, saya masih bisa tangani. Tapi saya kelimpungan saat hari besar keagamaan seperti Idul Adha tiba. Saya bingung melihat kiriman daging qurban yang teronggok dan hanya akan menjadi pasukan sate yang berbaris rapi berbumbu kecap dan bawang merah. Maka, jika saya bertemu dengannya, saya akan setia berdiri di sampingnya untuk mengiris bawang, memarut kelapa tanpa mengeluh untuk kemudian memerasnya hingga menjelma gulai yang teramat gurih tanpa penyedap rasa. Atau membantunya memasukkan beras kedalam cangkang ketupat dengan takaran yang tepat hingga hasilnya ketupat akan tampak seperti perut Bii Rain yang Six Pack. Tidak seperti saat kemarin, ketupat tampak bulat menggembung seperti paman gembul yang siap muntah karena overload.

Atau saya akan memintanya untuk menyibukkan diri sebagai wanita karir yang punya seabrek kegiatan. Hingga beliau tak perlu lagi menunggui kami -anak anaknya- pulang setiap sore. Setia dengan sebuah buku ditangan, kacamata yang bertengger di hidung mungilnya, dan sebuah kotak ajaib bernama televisi di hadapannya. Lalu saat pintu terbuka dan satu persatu anaknya pulang, sambil melepas kacamata dan menyimpan buku, beliau akan membuka lemari makan. Dan tanpa diminta, menyebutkan daftar menu hari ini. Maka jika saya bertemu dengannya, dengan segenap hati saya akan membiarkan beliau beredar setiap hari dengan agenda pertemuan yang ketat. Lalu kami -anak anaknya- akan terbiasa memegang kunci rumah masing masing. Tidak seperti kemarin, saya lupa menyimpan kunci rumah bagian saya hingga panik sibuk menelpon kesana kemari demi bisa masuk ke dalam rumah. Dan setibanya di dalam, tak ada yang menyambut dengan teriakan menu hari ini.

Tapi, saya tahu, semua kemungkinan di atas adalah obat bagi secuil luka atas kehilangan yang masih terasa. Bukan, bukan saya tidak ikhlas melepasnya pergi ke hadapanNya. Tapi saat ini saya rindu untuk dapat memandang wajahnya, untuk dapat berbincang dengannya tentang hari hari penat yang saya jalani selepas kepergiannya, untuk dapat memeluknya hingga mantra itu lamat terdengar lirih di telinga saya, untuk dapat mendengar suaranya lengkap dengan gelak tawanya. Untuk dapat mengamini setiap hamburan doanya yang saya butuhkan. Dan untuk mencium tangannya, seraya berujar… “terimakasih untuk segalanya, maafkan semua keterbatasan teteh sebagai manusia”


Mah, seharusnya mamah hari ini berusia 60 tahun...

Tapi 70 hari lalu, mamah pergi di subuh hari yang sepi, disamping teteh yang tak terisak sama sekali. teteh yang masih bisa mengganti pampers dan menyisir rambut mamah lalu membersihkan badan mamah sesaat setelah mamah pergi. Tapi yang tak berani melihat jasad mamah dimandikan, dan dikafani. Teteh yang saat ini masih menangis setiap usai shalat karena takut doa doa teteh untuk mamah tak cukup menghangatkan mamah saat hujan mengguyur bumi.

Rabb, jaga mamah, titip mamah di pelukanMu. Amiin

10 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s