Memaknai sebuah Effort

Ragu ragu dan tidak percaya diri adalah sebuah analogi dari diam ditempat, -nita-

Setahun lalu, saya dipertemukan dengan seorang teman semasa sekolah di SD. Dimana lagi, kalau bukan di FB. Awal berteman di FB, dia masih mengenal saya sebagai sosok langganan juara kelas dan pintar (saat itu). Lalu ketika kami dipertemukan dalam situs jejaring sosial, dia baru tahu banyak tentang aktivitas dan kegemaran saya yang lain. Ya, dia tahu kalau saya sering menulis (karena saya sering menulis notes di FB) dan saya juga memberi tahu beberapa tulisan saya yang sudah tayang di media cetak. kemudian dia sering sekali meminta untuk di Tag di setiap notes yang saya buat. Karena alasan yang teknis, dan sedikit pribadi (karena tidak semua tulisan saya dipublish di Notes FB), maka saya pun memberitahu beberapa alamat blog saya hingga dia tahu hampir semua alamat blog saya (termasuk yang ini).


Dan seiring waktu, dia mengatakan bahwa dia sangat ingin menjadi penulis tapi dia merasa tidak memiliki sedikitpun rasa percaya diri. Mengapa? karena dia DO (Drop Out) dari sebuah perguruan tinggi. Kemudian saya bilang, bahwa itu bukan satu alasan untuk tidak berbuat. Tak lama dia mulai membuka kembali file lamanya dan kemudian di upload FB-nya. Lalu tanpa saya duga, diapun mendaulat saya untuk mengomentari dan mengedit setiap tulisan yang telah dia buat sebelum diupload di Fb nya.


Lama saya tidak tahu kabarnya, karena kesibukan masing masing. Tapi saya tahu, dia sudah mulai rajin memposting tulisan via blog yang dimilikinya. Diam diam, saya sering mengintip isi blognya dan saya melihat kemajuan yang teramat sangat. Dari gaya penulisan, struktur kalimat dan editorial yang semakin membaik. Sayangnya, saya sedikit belum bisa memahami content dari tulisan miliknya. Mungkin karena berbeda genre. Tapi jujur, saya masih harus berfikir keras untuk memahami benang merahnya karena gaya bahasanya yang sedikit diluar jalur yang saya anut. Tapi apapun itu, saya tahu, dia telah mencoba.

Hingga tadi pagi saat saya membuka FB, ada satu kiriman dari dia. Saya di tag di sebuah foto miliknya. Dan ketika saya buka, subhanallah..ternyata sebuah cover buku miliknya. Sebuah buku berjudul Nocturno, oleh Mogie Akasah.Kaget bercampur kagum. Dan ada sebuah rasa yang menyeruak tatkala mengingat effort dan tekad yang begitu besar darinya. HARU. Dia membuktikan bahwa dia mampu menggapai mimpinya.

Lalu diri menerawang sejumlah tulisan yang tersimpan rapi, setelah sebelumnya dikumpulkan dan dipilah sesuai tema. Sejumlah file tulisan yang alhamdulillah sudah terpublish di sejumlah media cetak, setumpuk cerpen yang belum juga selesai di edit dan belum juga (berani) terpublish.

Ya, diam diam jauh di lubuk hati saya, keraguan dan ketidakpercayaan diri begitu menggurita. Merasa bahwa saya belum mumpuni, tulisan saya masih jauh dibawah standar, tema bahasn yang masih ece ece, daan lain sebagainya, masih begitu sulit saya lepaskan. Padahal, kemarin sudah ada teman yang mau membantu semua hal yang berkaitan dengan editorial,lay out dan cover. Tapi, saya gagal memaknai hal itu sebagai momentum untuk bergerak. Semua karena saya ragu dan tidak percaya diri. Akibatnya saya tertinggal oleh seorang Mogie yang memiliki effort dan berhasil keluar dari kungkungan ragu dan tidak percaya diri.

Lalu apa yang masih membuat mu berdiam diri wahai diri???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s