The Old Woman

Selasa siang usai dari sebuah Rumah Sakit swasta, di jalan menuju rumah ketemu nenek yang suka jual kue kue jajanan pasar. Jualannya ga banyak, cuma sekeranjang kecil isinya donat, bakwan, risoles, pisang goreng, ali agrem, gehu. Harganya pun hanya Rp.1000.

Setiap hari beliau ngider keluar masuk gang nawarin dagangannya.Kadang jika hingga siang hari ba’da dzuhur beliau masih keluar masuk, berarti dagangannya belum habis. Dan beliau pantang pulang sebelum dagangannya habis. BIsa dibayangkan, di usia yang sudah renta sekitar 80 tahun, badan yang membungkuk membentuk sudut siku siku, memakai kebaya brokat dan kerudung lusuh, keluar masuk gang dari pagi sambil teriak “donat, gehu pisang goreng…”, apa yang dirasa dihati?

Mungkin orang yang membeli juga bukan sekedar ingin makan penganan yang dijual, tapi lebih kepada kasihan dan menghargai upaya-nya yang gigih, banting tulang di usia yang harusnya dinikmati dengan leha-leha.

Hingga siang hari itu, saya berniat membeli beberapa penganan darinya, begitu dari jauh melihat sosok itu bersimpuh di pinggir jalan sambil membereskan plastik dagangan dan beberapa ceceran uang hasil jerih payahnya yang baru diterimanya dari seorang ibu berkerudung hitam. Saya tahu , dagangannya belum habis karena hingga jam 2 siang beliau masih berkeliaran. Kasihan. Saya dekati dan saya tanya penganan apa saja yang masih tersedia. Tahu jawabannya??

deuuh,,neng geulis, menak, bageur, sholeh..seep dagangan Emak na. Tadi diborong ku si Ibu. Tuh teu nyesa hiji hiji acan. Karunya teuing atuh si eneng teu kabagean. Keun isuk jaganing geto ku emak di sesakeun nya?? Hampura geulis..teu ka agehan.”
(duh, neng dagangan emak-nya habis. Tadi diborong ama Ibu itu. Ga bersisa satupun. Kasihan neng ga kebagian. Kalau gitu besok lusa sama emak di sisain ya?? Maaf geulis,,,ga kebagian )

Saya pun menjauh begitu melihat dagangannya habis tak bersisa. Tapi, dengan setitik rasa malu di hati. Bahwa ternyata niat baik saya yang dilandasi oleh rasa kasihan dibalas dengan penghargaan yang jauh lebih besar dari beliau. Beliau tidak sedikitpun merasa dikasihani, malah balik mengasihani saya yang kehabisan penganan. Ternyata saya menyadari alasan beliau untuk tetap berjualan hingga hari ini. Beliau bekerja untuk menegakkan maruah diri. Hingga tak ada sedikitpun celah didirinya untuk menengadahkan tangan mengharap belas kasihan dari orang sekitar.


Oke Aunty…pelajaran hari ini : Bekerja tanpa udara keluh kesah, seberat apapun itu. Semoga Aku bisa.

06-07-10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s