Bapak Sepuh

Seperti layaknya hari hari kerja, bapak sepuh itu selalu menyapu semua area selasar gedung bahkan hingga seluruh kampus. Keberadaannya nyaris tak diperhatikan orang yang lalu lalang. Tak jarang bapak sepuh selalu memberhentikan pekerjaannya jika ada kendaraan yang lewat. Lalu kembali menekuri pekerjaannya hingga adzan Dzuhur berkumandang.

Setiap kali berpapasan di area kampus, saya selalu menyempatkan untuk menganggukkan kepala, atau sekedar menyapa. Dan dengan senang hati, bapak sepuh selalu membalas sapaan.

Hingga tiba penerimaan mahasiswa baru. Desas desus rapat Jurusan menyebutkan bahwa ada anak seorang karyawan institut yang diterima di jurusan kita. Tapi kita tidak tahu nama karyawan tersebut. Tapi,usai pertemuan orangtua dengan jurusan, akhirnya saya tahu, bahwa anak dari bapak sepuh petugas kebersihan institusi-lah yang diterima. seorang anak perempuan berkerudung rapi.

Singkat kata, hampir satu semester terlewati. Sang anak -saya sebut nur- mengikuti perkuliahan dengan rajin dan nilai yang cukup memuaskan. Padahal layaknya mahasiswa baru, perkuliahan yang padat masih harus ditambah dengan kegiatan berorganisasi di himpunan jurusan yang cukup melelahkan.

Tiba tiba setelah hampir satu tahun terlewati, saya dikejutkan dengan surat permohonan mengundurkan diri dari Nur. Dan ketika ditelisik alasannya, Nur hanya mengatakan bahwa dia tidak sanggup mengikuti perkuliahan di jurusan teknik. Saya sedikit heran. Jika Nur tidak sanggup, mengapa IPK dia selama 2 semester ini diatas 2.75? Saya pikir, pasti ada alasan lain.

Saya yang terhitung dekat sekali dengan anak anak, mencoba mencari informasi tambahan. Ternyata, dari sahabatnya Nur, saya mendapatkannya. Ya..alasan yang membuat saya sedikit sedih. Nur mengundurkan diri karena alasan finansial. Tapi, bukan finansial untuk kebutuhan primer kuliahnya. Sebagai anak seorang karyawan, dia mennerima keringanan biaya hingga hampir 75% dari total biaya asal indeks prestasi diatas 2.5. Tapi, finansial untuk kebutuhan dia berorganisasi.

Saya heran, apa benar banyak pungutan di himpunan? Saya kembali mencoba mencari jawabannya. Dan ternyata, selalu ada iuran wajib jika diadakan kegiatan. Nominal yang dipatok untuk satu kali kegiatan minimal 25 ribu rupiah. Alasannya untuk bikin baju panitia, jaket himpunan lah..dll. Nah, Nur ini ternyata seringkali tidak dapat membayar semua itu. Maka. ujung-ujungnya dia malu, rendah diri, minder dan tidak pernah mengikuti kegiatan hingga merasa dijauhi oleh teman-temannya.

Rasa minder dan rendah diri yang timbul ini lah yang akhirnya menyebabkan Nur memutuskan untuk mengundurkan diri. Dan kami, pihak jurusan sedikit menyesalkan hal ini.

Seketika, rasa bersalah selalu menghampiri diri. Apalagi saat melihat bapak sepuh sedang bertugas dengan peluh mengalir deras ditengah terik mentari. Pakaian lusuh, sendal jepit dan sebuah sapu sebenarnya adalah sebuah pengharapan. Pengharapan demi masa depan sang anak yang HARUS LEBIH BAIK dari dirinya.

Hingga saat ini, saya selalu malu jika harus berpapasan dengannya. Hati saya perih, mata saya selalu berkaca kaca. Menyadari tangan saya tidak mampu membantu apapun demi asa yang dicoba ditanamkannya pada sang anak.

Mengetahui, bahwa saya bukan siapa siapa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s