Keruh

Kamis, seisi penghuni rumah jatuh sakit. Bikin saya panik dan riweuh. Aktifitas saya pun lagi dalam puncak puncaknya. Hingga sore, saya baru sadar bahwa belum ada satupun remah nasi yang mengisi perut. Tapi tak terasa lapar sama sekali. AKhirnya saya isi perut dengan sepotong roti dan sebotol minuman dingin. Lalu pergi ke kampus lain untuk ketemu dosen. Tapi, begitu sampai ternyata dosen ybs sedang keluar kota. Ya Allah…saya hanya tertunduk lunglai. Ingin menangis. Betapa semua kejadian ini begitu membuat saya lelah.. Usai maghrib, saya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah. Tak hendak menaiki sebuah kendaraan umumpun. Saya hanya ingin sendiri. Merenungi semua kejadian yang menurut saya begitu tidak masuk akal.

Sabtu siang, sebuah SMS masuk dari seorang teman baik. Isinya menyuruh saya segera mengkonsumsi nasi, mengingat kondisi saya yang sebentar lagi menghadapi ujian. Entah kenapa, tiba tiba saja sms itu berujung emosional. Mungkin kondisi kami saat itu sama sama sensitif. Tapi saya segera meminta maaf dan menganggap semua nya beres. Menjelang malam usai shalat isya, karena lelah, saya langsung terbaring dan mematikan semua alat komunikasi.

Hingga ahad pagi, semua hal memburuk. diawali oleh SMS saya yang menanyakan kondisi teman via sms. Tapi hingga malam pun,. sms saya tak berbalas. Saya coba berprasangka baik, mungkin dia tidak memiliki pulsa untuk menjawab.

Senin pagi, saya message dia via Ym. Tapi, kembali tak berbalas. Hanya 30 menit saya online. dan memutuskan untuk menyudahinya. Kewajiban saya untuk meminta maaf sudah saya laksanakan. Tak lama saya harus mengirimkan tulisan yang rencananya akan saya publish di sebuah media cetak. Begitu saya buka filenya di Flash Disk, ternyata tak bisa terbaca. Damaged. Allahu Akbar…apalagi ini?? saya coba recovery data terakhir, tetap tidak bisa. sia sia sudah begadang hingga jam 1 dinihari. Lalu mata saya berkaca kaca. Hati saya keruh mengingat semua kejadian yang begitu beruntun dan tak terduga. Pukulan demi pukulan membuat saya limbung. Bahkan seorang teman baikpun, tempat saya selama ini berbagi cerita, mendadak terlukai dan menjauh.

Tekanan di dada tak bisa ditahan. Menyadari begitu banyak hal yang luput dari hadapan saya. Bergegas berwudhu untuk shalat dhuha. Di sela sujud itu, tekanan di dada saya lepaskan hingga menganak sungai. Mendadak Semua perbendaharaan kata hilang, lenyap. Hanya menyisakan isakan tertahan. Untuk kemudian hanya lirih suara yang menggema, merintih dihadapanNya.

Saya teramat yakin, Dia tahu kapasitas makhlukNya..sebagaimana DIa ungkapkan di QS Albaqarah, 2:286.

22-26 April 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s