Girls Talk

Apa yang akan dilakukan jika satu saat Kita menjadi Ibu dari seorang anak perempuan,lalu secara tiba-tiba mengetahui bahwa anak perempuan Kita mendapat haid pertamanya? Panik , terkejut, Syukur , atau bingung ?

Itu pula yang dialami Kakak perempuan saya,saat tahu anak perempuan nya yang belum genap 10 tahun,mendapat Haid pertamanya persis hari kemarin (07 agt 08). Awalnya dia kebingungan,saat sang anak pulang sekolah lalu bercerita tentang noda merah (maaf) di celana dalamnya. Sang anak mendapati noda merah saat hendak berwudhu untuk shalat dzuhur.

Dari pembicaraan itu, dapat disimpulkan bahwa ada kepanikan, kebingungan juga keterkejutan, Apa sebenarnya yang harus dilakukan? Semua hal itu timbul karena tidak adanya upaya preventif dari pihak orang dewasa (yang notabene kita) untuk mengenalkan secara dini mengenai sex education. Hal ini masih menjadi sesuatu yang ”risih” untuk dibicarakan di level keluarga. Setidaknya itulah pola didik warisan orang tua kita. Selain itu, seperti pengalaman diatas, biasanya orang tua terkejut karena merasa bahwa mereka mendapatkan haid pertama saat menginjak bangku SMP atau SMA. Sehingga begitu anak mereka mendapat haid diusia 9-10 tahun, mereka terkejut. Kenapa bisa? Mungkin orang tua lupa,bahwa faktor gizi, makanan, lingkungan, juga tontonan sedikit banyak mempengaruhi.

Satu hal lagi, orang tua sering lupa mengenalkan aturan agama, hak dan kewajiban seorang anak perempuan yang sudah baligh. Sebenarnya inilah yang paling utama (menurut saya..). Karena setelah baligh,ada batasan batasan yang harus diterapkan dan diberlakukan pada perempuan. Menutup aurat, batasan muhrim, pergaulan, ibadah. Banyak sekali.

Dan ,karena faktor kebingungan inilah yang memacu kami (saya dan kakak) untuk belajar, berproses untuk berubah ke arah yang lebih baik. Lalu mulai berusaha mengenalkan anatomi tubuh, perubahan hormonal dan apa yang harus dilakukan pada anak gadis kecil itu. Lalu tak lupa pula kami memperkenalkan batasan pergaulan, mana yang boleh dan tidak,batasan aurat juga hukum agama yang berkaitan dengan sholat, shaum hingga mandi besar.

Ternyata begitu sulit. Sulit untuk berbicara hal yang terhitung ”serius” dengan seorang gadis berusia 9 tahun 10 bulan. Mencari padanan kata yang bisa dengan mudah dimengerti, belum lagi rasa risih untuk mulai mengenalkan kata-kata mengenai perbedaan jenis kelamin antara dua gender yang berbeda. Dan satu hal lagi, kami berdua melakukannya atas dasar pengalaman, karena kami belum menemukan buku panduan untuk orang tua menghadapi anak saat haidh pertama.

So,,,bantulah ia untuk menghadapi ”perubahan” besar itu, bantulah mengatasi kebingungannya, ketakutannya. Jangan mencekokinya dengan mitos mitos yang selama ini beredar, ajak lah berbicara sebagai gadis kecil beranjak remaja, duduk berdua,melakukan ”girls talk”, dari hati ke hati, lalu perlahan lahan bukalah hati kita untuk menghilangkan rasa ”risih” berbicara tentang anatomi, sex juga aturan islam yang berlaku. Jadikan diri kita sebagai orang dewasa yang siap menerima semua keluhan dan menjawab semua pertanyaannya mengenai apapun. Bimbing ia melewati masa paling kritis dalam hidupnya, demi kebaikan dan keberhasilan dunia dan akhiratnya. Juga representasi tenggung jawab kita sebagai orang tua.

Semoga hal ini menjadikan kita lebih baik lagi. Insya Allah..Karena ternyata menjadi ibu itu sungguhlah tidak mudah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s