Napak Tilas

Perjalanan 2 minggu kemarin adalah edisi Pencarian. setelah meninggalkan kota yang penuh dengan pohon besar untuk bertahun lamanya. Menginjakkan kaki di Terminal Baranang Siang ibarat kembali ke masa-masa melelahkan,,perjuangan, juga ppondasi awal kesadaran beragama..

Bogor adalah kota kedua, memegang peranan penting dalam sepenggal episode kehidupan saya. Keberadaan saya untuk kali ini hanyalah untuk menuntaskan rasa rindu akan suasana yang tidak didapatkan .

Minggu kemarin, saya merasakn kejenuhan teramat sangat. Otak penat, badan capek, hati kusut. Saya merasa kehilangan semangat.Tiba tiba saja saya Rindu dengan Bogor. Saya kangen teman-teman kost saya. .Tanpa pikir panjang, berkemas, lalu pergi. Tentu saja ke Bogor.

Ternyata bogor sekarang jauh berbeda sekali. Sekarang berdiri Giant, dan Botani Square di bekas lahan kampus IPB. Saya ingat,,Botani Square dulunya adalah Sederetan kelas untuk Mahasiswa TPB. Mulai P 1 hingga P 11, juga Taman Satari, lapangan, Jurusan Biologi, Laboratorium Kimia Fisika dan Lingkungan.

berjalan ke arah tugu kujang. Ada hal yang berbeda. Restoran Cepat Saji KFC tampak terang benderang dengan cahaya matahari. Rasanya ada yang kurang..apa ya.. ternyata satu pohon besar didepan KFC tidak ada. Dulu..di bawah pohion yang akarnya menjuntai hingga trotoar itu ada sederetan telepon umum koin. Sekarang,,semuanya nggak ada lgi..

Lalu saya naik angkot 08 Ramayana-Bantar Jati,,sepanjang jalan pajajaran penuh dengan FO, Bank, dan pusat keramaian. Internusa pun sekarang sudah ramai lagi. Turun di depan Telkom, saya menyebrang dan masuk ke Kampus Gunung Gede. Aromanya begitu saya kenal. Tidak ada yang berubah,,kecuiali halmannya penuh dengan mobil yang parkir. mungkin mahasiswa MM IPB.

Ada rasa yang begitu sulit saya jabarkan..Begitu saya melihat bangunan di samping kanan kampus. Bangunan itu tidak berubah sama-sekali. Tetap hangat..sejuk,selalu siap menerima tamu yang berkunjung. Selalu tebuka menerima orang yang datang dengan kerinduan membuncah..Memasukinya,,saya merasa pulang ke rumah.

Ya..Mesjid Al Ghifari. Inilah tujuan saya. Di dalamnya, setelah shalat dzuhur, lamaa saya termenung di lantai dua. Memandangi karpet hijaunya, merasakan atmosfir yang selama ini saya cari,saya butuhkan. Betapa bertahun lalu, saya sering tersungkur, bersujud , menangis, tertawa, berbagi suka dan duka bersama kawan, terkadang menjaili teteh”akhwat” yang memberikan responsi agama. Betapa di masa-masa itu saya meras mampu menghadapi semua kesulitan, rintangan,cobaan, ujian, Begitu bersemangat menyongsong asa. Seakan memiliki stok semangat yang tak pernah habis.

Terus,,kemana larinya semua itu?? kemana larinya semangat yang begitu menggebu saat asa yang diimpikan telah hampir teraih?? mengapa saya menjadi begitu rapuh?? Pertanyaan demi pertanyaan mneggempur dinding hati. Muhasabah..introspeksi..kontemplasi..merenung.. Untuk semua yang telah saya lewati setelah betahun lalu meninggalkan kota ini.Hingga tak terasa air mata mengalir.. menangisi jejak hidup yang terbuang percuma…

Lalu setelah semua sesak dada, otak penat, hati kacau terlepaskan,,berganti dengan semangat untuk meluruskan niat,,berkemas dan saatnya pulang kembali ke bandung..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s