yeayy..

Akhirnya…saya bisa kembali ngebuka dan posting sesuatu. Setahun lebih saya ‘tenggelam’ di dunia baru. ya..bener bener baru. Karena saya sudah jadi Ibu. Alhamdulillah..

Jadi, ini adalah postingan pertama saya sebagai seorang Ibu.

Hampir setahun lalu, saya melahirkan seorang bayi perempuan cantik melalui proses operasi caesar. Kenapa harus caesar? hmm..itu cerita yang akan saya tulis di sesi berikutnya (Pe er banget..hehe). Bocorannya, saat itu sudah memasuki usia kehamilan 40 minggu, pengapuran plasenta dan tidak ada mulas sama sekali. Capek adu argumen ama dokternya, akhirnya saya nyerah di meja operasi. Selasa menjelang tengah malam 30 september 2014 pukul 23.30WIB keluar lah bayi perempuan cantik dari perut saya. Beratnya 3,1 kg dan nangisnya kenceeng banget. hahaha..

Oke..banyak seklai yang ingin saya tulis. Mengenai bayi perempuan yang sekarang akan menginjak usia 1 tahun, menu MPASI, siklus kerja yang acak acakan, dan masih banyak lagi.

Oiya, bayi perempuan itu namanya Kinanti Diandra Arsyfa. Sekarang udah pintar ngoceh, udah pintar jalan dan pintar juga makannya. Alhamdulillah..

random banget kayaknya tulisan kali ini? hehe.. mungkin karena saking exciting nya sampe isi otak nya juga berjejal loncat sana loncat sini. Duh..maafkan ya..

Oke..sepertinya sampai sini dulu deh ceritanya. Semoga besok dan besoknya lagi, saya bisa nulis semua yang saya ingin tulis. Aamiin 🙂

Iklan

Holaaa

Akhirnya punya sedikit waktu yang bisa dipake buat nengokin tulisan teman teman. Dan ‘berusaha’ nyempilin seupil tulisan ga penting setelah sekian lama gak ninggalin jejak.

Hmm.. tulisan terakhir itu November 2013, sekarang udah tahun 2014 bulan agustus *lama bingitts yaa ga nulis apapun* *getok pala sendiri* Ga mau bikin alasan apapun karena pasti alasannya S I B U K *klise banget kan?*

Etapi, selain sibuk ama kerjaan yang kalo dijabanin ga akan pernah beres, saya juga punya kesibukan lain yaitu menikmati kehamilan kedua. Yeayy..!! alhamdulillah, saya dipercayaNya untuk hamil kembali.

Hingga hari ini -8 Agustus 2014- usia kehamilan saya menginjak 33 minggu. wiih..bentar lagi dong?? iya bangeettt 🙂 Degdegan, rasanya campur aduk deh.. Doakan persalinannya mudah, lancar, nyaman, Ibu dan Bayi sehat selamat. Amiin

Masuk kampus kembali setelah libur lebaran, ada yang kembali dan ada yang tidak kembali.  Kembali dalam arti bertemu dan masih beraktivitas, tidak dalam artian memang pulang ke haribaanNya.  Ya, jatah waktunya di dunia sudah habis.

Mungkin saya juga sedang menanti dalam sebuah antrian panjang menuju kepulangan.  Bukan begitu? 🙂

Tapi yang pasti, di sela keterbatasan dan jatah waktu itu, saya masih ingin bercerita banyak tentang semua hal.  Salah satunya, tentang kehamilan saya yang sekarang dan orang orang terdekat juga hiruk pikuk kampus.

Semoga besok lusa saya masih bisa menyempilkan sebuah celotehan acak di sini. Insha Allah..

 

 

 

Unfinished Business

https://i0.wp.com/kdri.web.id/sites/default/files/wajib%20belajar.jpg

gambar dari sini

Saat kuliah di Bogor, saya ingat punya kakak kelas asal Papua yang  belajar di jurusan yang sama. Katanya, kakak kelas itu anak salah satu ketua suku di daerahnya.  Konon katanya pula, dia satu satunya warga suku yang diijinkan mengenyam bangku pendidikan hingga kuliah. Mungkin karena anak ketua suku juga ya. Dan kabarnya, saat ini dia sudah jadi pejabat daerah di Papua.

Sebenarnya saat itu banyak teman dan kakak kelas yang berasal dari wilayah timur indonesia khususnya Papua. Tapi rata rata, mereka bukan orang asli Papua karena mereka mengikuti orang tua dinas di sana.  Tahun 1999 juga ada salah satu mahasiswa di Jurusan kami yang berasal dari Papua. Saat itu dia ditugaskan oleh Pemda setempat tempatnya bekerja untuk kuliah di jurusan Teknik dengan modal beasiswa. Usianya jauh diatas rekan rekan mahasiswa seangkatannya 🙂 tapi salut, dia belajar dengan giat dan saat ini beliau sedang menyelesaikan S3 di UGM. Waaah.. senangnyaaa 🙂

Sudah sekitar 5 tahun terakhir, jumlah mahasiswa dari daerah timur indonesia yang belajar di institusi tempat saya beraktivitas,mengalami peningkatan. Keberadaan mereka terlihat mencolok walaupun saat berbaur. Setiap angkatan, ada sekitar 4 mahasiswa dari wilayah timur Indonesia dan 2 diantaranya dari Papua. Saya menaruh harapan besar pada keberadaan mereka dengan tujuan dapat membangun daerahnya menjadi lebih baik lagi saat usai mereka kuliah.

Tapi harapan saya masih jauh panggang dari api. Mahasiswa dari daerah timur khususnya Papua, saat menginjak semester 4 tak akan terlihat lagi kehadirannya di kelas. Ini bukan omong kosong. Saya melihat pola yang sama selama 5 tahun ini. Mereka berguguran dengan sendirinya. Yang menyebabkan mereka mundur adalah hal yang mendasar sekali yaitu mereka tak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Kok bisa? baik, saya akan bercerita sedikit mengenai hal ini.

Suatu hari di awal tahun 2010, seorang mahasiswa Papua semester awal mendatangi saya. Dia mengeluh mengenai materi perkuliahan yang menurut dia sulit dan tak bisa dicerna. Saat itu kening saya berkerut karena mata kuliah di semester 1 dan 2 masih mengulang pelajaran di SMU. Ya,,ga jauh dari matematika,fisika dan sisanya mata kuliah umum lainnya. Jadi, apa yang tak bisa dicernanya? Setelah bercerita banyak, akhirnya dia mengaku bahwa dia tak bisa mengerti  pelajaran matematika dan fisika dan dia minta saya untuk mengajarinya. Lalu, bagaimana dia bisa lulus UN? Jawaban dia klasik. Seperti yang sudah kita tahu yaitu “diperbolehkan tidak jujur”.

Jadi, masuk akal jika dia tak bisa mengikuti perkuliahan dengan baik karena ternyata kualitas manusianya yang buruk diakibatkan sistem pendidikan dasar hingga menengah yang semrawut dan tak berpihak. Bukan hanya matematika dan fisika saja yang tak dimengerti. Bahkan Bahasa Indonesia pun mereka tak fasih dalam menulis 😦

Tak sedikit kawan mereka yang berhasil menyelesaikan kuliahnya di jurusan teknik . Tapi sekali lagi, beban menggelayut di pundak rekan dosen.  Standar penilaian kami buat tak terlalu muluk dengan mahasiswa lain. Bukan tanpa alasan, tak jarang mereka tak paham apa yang diinginkan dosen pembimbing. Tapi kami juga tak ingin membuat penilaian sekedarnya karena kami pun harus paham kualitas manusianya. Dan ini menjadi permasalahan tersendiri bagi kami.

Padahal, putra daerah yang kuliah jauh di Tanah Jawa kelak akan memegang jabatan strategis di daerahnya. Salah satu alumni yang berasal dari Ternate bahkan kini sudah ditarik menjadi tenaga tetap sebuah konsultan lingkungan yang menangani proyek Infrastruktur di Indonesia Timur. Tengok saja persyaratan PNS, sejak 2 tahun lalu selalu ada persyaratan tambahan untuk penempatan di Papua “putra daerah yang kedua orangtuanya asli Papua atau salah satu orang tuanya asli Papua“. Bukan sekedar orang yang ber-KTP Papua 🙂

Ini sebuah kebijakan yang bagus sekaligus lucu. Terbayangkah kondisi Papua setidaknya 10 tahun kedepan jika kualitas manusianya masih seperti ini? Mengharapkan pejabat daerah yang mengerti, peduli dan solutif akan permasalahan daerahnya itu mimpi yang terlalu muluk. Bukan pesimis, tapi justru ini bentuk kekecewaan saya akan sistem pendidikan yang amburadul. Terbayangkah, mahasiswa semester 2 tak mengerti operasi aritmatika dasar? sementara rekan mereka di belahan bumi lain sudah sibuk dengan les kumon. Bagaimana kabarnya momen, vektor, dll? 

Tulisan ini tak bermaksud meng-underestimate-kan semua putra daerah papua. Masih ada alumni angkatan 2000 yang baru saja menyelesaikan studi master nya di USA dengan Beasiswa Fullbright dan sekarang bekerja di Freeport, alumni angkatan 1999 yg sekarang sedang menempuh S3 di UGM, Alumni angkatan 2001 yang menjadi tenaga ahli air bersih di Biak. Tapi itu mereka yang memiliki kesempatan dan akses terhadap pendidikan dasar dan menengah lebih baik. Mereka berdomisili di Ibukota kabupaten Timika,Sorong dan Biak. Sementara sisanya?

Pemerintah juga telah menyediakan akses beasiswa pasca sarjana dengan porsi yang lebih besar untuk mahasiswa yang berasal dari daerah timur. Ini karena tujuan nya agar wilayh timur bisa mengejar ketertinggalannya dari sisi sumber daya manusia. Tapi pemerintah masih sedikit abai tentang pendidikan dasar dan menengah. Saya nggak tahu, apakah wajib belajar 9 tahun masih berlaku atau tidak?

Ini salah satu Unfinished business pemerintah yang harus segera diselesaikan. Semoga saja pemerintah lebih aware lagi hingga tak ada lagi kasus mahasiswa yang gugur di tengan jalan karena tak paham matematika dasar 😦

 

 

 

Lalu, Dimana Aku?

Saat ini kami (saya dan suami) sedang menjalani Promil (Program Hamil) di salah satu DSOg di Bandung. Sebenarnya, 2 bulan lalu saya sempat hamil tapi keguguran.  Lalu dokter menawarkan program hamil mengingat kondisi saya yang tergolong usia beresiko. Programnya masih ga macem macem kok. Saya diberi Profertil yang berfungsi untuk memperbesar ukuran sel telur. Tablet profertil ini dikonsumsi 1 x selama 5 hari dimulai dari hari ke 2 Haid.

Sudah sebulan sejak konsumsi Profertil, hari kemarin saya harap harap cemas. Berharap hasilnya sesuai dengan harapan alias tamu bulanan tak datang.  Ternyata tamu bulanan saya dateng pagi tadi dan artinya saya belum dikasih buat hamil. Kecewa? Pastinya, hingga suami saya –yang kebetulan sedang di bandung- berkali kali mengingatkan untuk tetap ikhtiar ikhlas dan tawakal.

Di kantor, pikiran saya sama sekali tidak fokus.  Saya masih tak habis pikir, kenapa bisa ga hamil ya? padahal saya udah minum obat, jaga pola makan,pola hidup pokoknya semua saran dokter udah dijalanin. DOa? apalagi yang ini, pastinya tak pernah lewat. HIngga siang tadi saya memutuskan untuk ganti dokter dan ikut program hamil lagi.

Suami –yang udah hafal karakter saya– begitu tahu keputusan saya, ga berkomentar banyak. Selama hampir 30 menit saya nyerocos di telpon dengan mengemukakan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah saya takut disuruh minum profertil lagi, sementara efek sampingnya adalah menimbulkan kista. Sementara saya ada kista endometrium seukuran 3.5 cm di kanan dan 2 cm di bagian kiri. Ini yang membuat saya ketakutan setengah mati.  Saya takut operasi jika dalam waktu 2 bulan promil ini saya gagal hamil.

Kecapean nyerocos, giliran suami yang berkomentar pendek. “iya, terserah Ibun. Abi ikut aja. Tapi Ibun tidak boleh kecewa karena sudah merasa berusaha maksimal. Program hamil, minum obat, ikut anjuran dokter lalu kecewa karena hasilnya tak sesuai dengan keinginan. Jika berfikir seperti itu, Ibun harus introspeksi. Bisa jadi ini teguran dariNya yang meminta hakNya dipenuhi. Dimana Ibun letakkan Dia? di doa yang penuh paksaan atau doa yang penuh kepasrahan?? “

Ya, itulah suami saya. Yang sanggup membuat saya mengerti tanpa harus menggurui. Yang mampu membuat saya terdiam seketika tanpa harus berteriak riuh. Dan kali ini saya sesenggukan, menangis di ujung telpon menyadari titik kesalahan saya.

Benar apa kata suami, bahwa doa doa yang saya hamburkan masih penuh paksaan padaNya, bukan pasrah akan kehendak dan takdirNya. Hingga wajar jika saat ini Dia mengingatkan saya “jika kamu merasa telah berusaha  maksimal, lalu dimana AKU?” ya, saya melanggar batas teritorialNya, yang paling berhak menentukan, Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.

Sekarang saya sudah tidak kecewa lagi.  Tapi saya dan suami memutuskan untuk berhenti program hamil –yang baru dijalani satu bulan– dan membebaskan otak kami dari target hamil, melupakan sejenak soal usia kami yang masuk kategori riskan. Kami berdua ingin hamil secara alami saja, tanpa obat dan jadwal dokter yang membuat kami dikejar target dan tenggat.

Insya Allah, saya bisa hamil tanpa promil. Buktinya, 2 bulan lalu saya sempat hamil walau keguguran. Artinya, saya sehat. Cuma yang jadi PR sih, jadwal ketemuan ama suami yang harus dicari solusinya 😀

Bismillah, do’akan kami.. 🙂

Jodoh oh jodoooh :)

Tadi pagi, saya membaca satu tulisan di sebuah milis yang membahas tentang pernikahan. Penulis ini adalah perempuan anggota milis dan belum menikah. Di tulisannya, mbak ini mengulas tentang jodoh yang tak jua datang di usianya yang siap –atau bahkan sudah terbilang matang– untuk menikah. Saya sedikit enggan untuk menanggapi dengan sebuah komentar. Tapi setidaknya tulisan atau curhatan Mbak ini mengingatkan akan diri saya sendiri. Coz i’ve been there 🙂

Alhamdulillah saya sudah menikah Maret 2013 lalu dan sedang antusias ‘membaca’ suami.  Terkadang proses ‘membaca’ ini seolah cermin yang menampakkan secara langsung apa yang buruk dan cenderung tidak disukai dari pasangan atau sebaliknya. Jadi ‘membaca’ suami secara tidak langsung berarti ‘membaca’ diri kita sendiri.

Saya dan suami ternyata sudah diaturNya untuk bertemu di saat ini. Padahal hampir seperempat abad yang lalu kami begitu dekat. Tapi kami berdua tak menyadari sama sekali. Kami harus melewati fase hidup dengan jalan berbeda yang secara kasat mata tak akan menuju ke satu titik temu untuk kemudian menikah.

Kami menikah di usia yang tak lagi muda. Kebanyakan orang memasukkan kami ke dalam kategori Lajang Tua :D. Siapa sih yang mau dimasukkan ke kategori itu? saya yakin, tak ada yang mau satupun. Begitu juga saya dan suami.  Jika saja semua orang menyadari bahwa Jodoh itu rezeki –seperti yang kami yakini berdua–  maka saya yakin kategori itu tak pernah ada.

Keinginan untuk menikah –yang saya rasakan– muncul begitu kuat saat usia menginjak 27-29 tahun. Kenapa diusia itu? saya juga ga tahu persis kenapa, hanya saat itu saya sudah mempunyai penghasilan, teman/sahabat sudah banyak yang menikah, dan merasa sudah  ‘cukup umur’ untuk berkeluarga. Saya amati di kalangan mahasiswa, yang mulai kasak kusuk bikin CV buat diserahkan ke murrabbinya pun kebanyakan diusia segini 😀

Tapi balik lagi, jodoh itu  rezeki,  hingga usia menginjak 30 tahun, saya masih belum menikah. Saya menyikapi dengan santay termasuk obrolan dan omongan di kalangan keluarga terdekat dan tetangga. Sebaliknya saya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang tak memberi kesempatan untuk saya mikir jodoh tapi tetap kencengin doa 😀

Selama rentang waktu 3 tahun sebelum menikah, tak sedikit keluarga yang menyodorkan calon dengan berbagai kriteria. Mulai yang usianya dibawah, seumur hingga jauuuh di atas saya. Mulai dari PNS, Dosen hingga wirausaha. Tapi semuanya ga berhasil. Entahlah kenapa, mungkin karena bukan jodoh saya kan? hehe.

Ketika saya tak pernah mempermasalahkan dan berfikir tentang jodoh, justru Allah yang menyelesaikan semuaNya. Banyak orang tua bilang bahwa jodoh itu jorok. Jorok dalam artian tak jarang jodoh kita adalah orang yang selama ini dikenal tapi tak terlihat, atau jodoh kita itu justru orang yang jadi musuh sejak kecil. Ya..intinya gitu deh, jodoh itu adalah orang yang tak terduga sama sekali 😀 *nyengir gede banget*

Dan saya –terpaksa– harus membenarkan ‘kata orang tua’  bahwa jodoh memang jorok karena saya mengalaminya. Hingga menjelang usia pernikahan 6 bulan –duuh,masih amatir banget yaa?- saya dan suami masih suka senyum senyum sendiri. Kok bisa ya, saya nikah ama temen jaman SMP dulu? Ya, saya dan suami teman semasa SMP tapi percaya atau nggak, saya ga pernah liat dan kenal dia begitu juga suami saya yang ga tahu dan ga kenal saya sebagai temen SMP nya -kebangetan kan??– . Kami baru tahu kalo satu SMP dan satu angkatan saat bertemu kembali di satu pekerjaan yang melibatkan dia sebagai salah satu anggota tim. Dan untuk cross chek, kami sama sama buka buku kenangan SMP. Lalu kami  tertawa ngakak begitu tahu kami teman semasa SMP tapi tak pernah saling mengenal dan tahu?

Ketika kemudian kami memutuskan untuk menikah setelah pertemuan kesekian kalinya, saya tak pernah sedikitpun berfikir bahwa kami terlambat menikah. Terlambat dari sisi usia yang menginjak 35 tahun,atau terlambat bertemu setelah 23 tahun yang lalu pernah begitu dekat. Tidak pernah. Karena tak pernah ada kata terlambat disisiNya. Semuanya terjadi karena satu maksud.

Jadi, untuk perempuan yang masih single di usia yang  memasuki kategori orang sebagai Lajang Tua –seperti yg pernah saya alami:D– ga usah khawatir sama sekali. Semua ada waktunya. Nikmati hidup dengan berteman sebanyak banyaknya, jalani hobby, pergi ke tempat yang baru, ga usah mikirin jodoh atau usia. Afgan juga bilang kalo Jodoh Pasti Bertemu 😀

Ya, Jodoh pasti bertemu. Trust Allah Swt.

I’m back :D

Kembali menghirup udara kampus setelah hampir 2.5 bulan mengasingkan diri. Rasanya campur aduk. Malas, seneng, dan bete. Pastinya malasnya itu yang menggurita karena udah terbiasa leyeh leyeh (lho kok? apa kabar kerjaan seudug udug yg dibawa ke rumah? *tar deh ceritanya di bab lain:D*) , seneng karena mulai punya aktivitas lagi, bete karena udah mulai kena rutinitas lagi, macet lagi dan sendirian lagi di rumah 😦

Ya, tapi tetep harus Seungmangat !! 2.5 bulan nemenin suami (ga full juga sih :p). terbiasa ngurusin hal hal berbau rumah mulai beres beres, masak masak, cuci cuci, setrika setrika daaann ngemil! mwehehehe. Akibatnya, badan saya makin sintal dan seksih gegara kebanyakan ngemil. Kata orang, saya keliatan bersih dan berisi *kayak bantal abis dicuci kali ya?* hehehe. Kayaknya kulit saya berubah dari sawo busuk ke sawo setengah matang karena ga pernah kena debu dan sinar matahari. Lha wong kerjaannya seharian diem dirumah. Badan  sedikit gemukan karena suami suka manyun kalo saya lupa makan sampe sampe dia punya kebiasaan baru yaitu nelpon tiap kali jam makan (pagi+siang) cuma buat nanyain udah makan atau belom. Akhirnya, daripada dimarahin dan dimanyunin suami, ya akhirnya makan jadi lebih teratur. makanya jadi sedikit gemuk nih :p

Dengan semua perubahan yang (semoga) ke arah lebih baik, saya mengawali hari di kampus. Memulai kembali rutinitas sehari hari, bertemu dengan anak anak yang gemesin, ngeselin tapi tetep ngangenin.

Bismillah..

So, here I am kiddos 😀